Setiap orang tua memiliki caranya masing-masing untuk mendidik buah hatinya. Baik untuk mengajarkan sesuatu, pun ketika melarang anak untuk melakukan sesuatu.

 

“Awas, jangan keluar lagi magrib, nanti dibawa kolong wewek”

“Ayo makan yang cepat, nanti makanannya dihabisin setan”

“Cuci kaki yang bersih sebelum tidur, kalo kakinya kotor nanti dijilatin setan”

“Jangan duduk di atas bantal, nanti pantatnya bisulan”

“Jangan makan sambil tiduran, nanti jadi ular”

 

Fenomena di atas tak jarang kita temui di sekitar kita. Mengapa orang tua harus menakut-nakuti anak agar perintahnya dituruti ?

Kadang orang tua malas untuk menjelaskan panjang lebar mengapa anak harus atau tidak boleh melakukan sesuatu.

 

Menakut-nakuti anak dapat menimbulkan masalah psikologis yang dapat berakibat pada rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu. Anak yang sering ditakuti dengan setan akan tumbuh menjadi anak yang penakut, pencemas, dan cengeng.

 

Alangkah baiknya jika kita menerangkan kepada anak dengan cara yang cerdas atau memakai alasan yang masuk akal. Saat masih anak-anak, otak belum dapat berpikir dengan logika. Otak menyerap apapun dari lingkungan dan menyimpannya dalam memori. Memori baik atau buruk yang terekam dalam otak anak berperan dalam membentukan mental dan perilaku anak hingga dewasa.

 

Gunakan kalimat-kalimat yang lebih rasional dan tidak menakut-nakuti anak.

“Ayo makanannya dihabisin, biar tambah pinter”

Dan kalimat-kalimat lainnya yang tidak mempengaruhi anak secara psikologis.

 

—-

Referensi : theurbanmama.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *