Semakin berisi, semakin merunduk - AMILY HIJAB

Semakin berisi, semakin merunduk

10 bulan yang lalu      Motivasi

Dikisahkan seorang pelukis di Asia. Awalnya dia hanya pelukis amatiran yang hidupnya serba kekurangan. Namun, karena ia terus berlatih, akhirnya ia berhasil menjadi pelukis profesional yang sukses. Karya-karya lukisnya banyak dicari dari penjuru dunia untuk dijadikan koleksi.

Namun, semenjak ia menjadi terkenal, ia pun terkenal dengan keangkuhannya. Ia terlalu sombong dan membanggakan dengan harta dan karyanya dan ia tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya saat ia hidup serba kekurangan.

Suatu hari seorang pria tua mendekati pelukis tersebut. Pria tua tersebut meminta pendapatnya mengenai sebuah lukisan. “Menurut bapak apakah lukisan anak ini bagus?” Tanya pria tua itu sembari menyerahkan satu lembar lukisan.

Pelukis itu mengambil lukisan tersebut tanpa memandang pria tua itu. “Apakah ini lukisan anak bapak?” Tanya pelukis tersebut. 

“Bukan!” jawab pria itu singkat. 

“Bapak kakeknya?” Tanya pelukis itu ketus. 

“Bukan, saya adalah gurunya,” kata pria tersebut sambil tersenyum bangga. 

“Ah lukisan ini sangat jelek. Sama sekali tidak bermakna. Saya tidak yakin anak ini kelak akan berhasil,” kata pelukis itu tak acuh. 

Pria tua itu hanya tersenyum seraya menerima lukisan itu dari tangan pelukis. Tak nampak gurat kemarahan sama sekali atas komentar pedas si pelukis.

Kemudian Pria tua itu berkata, “ Sebenarnya lukisan ini adalah lukisanmu waktu masih kecil. Tidakkah kamu ingat saat itu kamu adalah murid saya?” 

Pelukis terkenal itu tertegun sejenak. Ia segera meraih lukisan itu, kemudian memperhatikan baik-baik lukisan yang ada di dalamnya. Setelah cukup mengenali itu adalah lukisan miliknya, wajah pelukis tersebut memerah pertanda malu. Kejadian itu benar-benar luar biasa, karena telah membuat pelukis terkenal itu mengubah perilaku sombongnya. Sejak saat itu ia juga dikenal sebagai seorang yang rendah hati, baik tutur katanya dan ringan tangan membantu siapapun yang memerlukan bantuan. 

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah ketika kita semakin sukses dan berjaya, maka kita harus tetap rendah hati. Terkadang kita lupa, bahwa di atas langit masih ada langit, dan merasa bahwa diri kita paling hebat, paling pintar, dan lain sebagainya.   

Dan ingat, kesuksesan bukan hanya dilihat dari banyaknya harta yang kita miliki, namun juga keluhuran budi pekerti (akhlaq mulia). 

Apabila pelukis terkenal itu mendapat sebuah kejadian yang membuat malu hingga kembali rendah hati, lalu apakah kita pun harus menunggu dibangunkan agar kita sadar dan kembali bersikap rendah hati?

Sekarang saatnya kita berbenah bersama. Jangan merasa lebih baik dari yang lain atau mengabaikan peran orang lain, karena bisa jadi mereka memiliki peran yang sangat besar dan mendukung keberhasilan kita. 

Kita harus bisa seperti padi, semakin ia berisi, ia semakin merunduk. Ketika kita semakin sukses, kita harus semakin rendah hati, karena dengan rendah hati, kemulian seseorang akan di dapatkan, tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Amiin :)

Insyaallah

 

Artikel Lengkap & Produsen Khimar Antem Terbaik

 

www.amilyhijab.com




Komentar Artikel "Semakin berisi, semakin merunduk"