Adakah Batasan Suami Menafkahi Istri ? - AMILY HIJAB

Adakah Batasan Suami Menafkahi Istri ?

3 bulan yang lalu      Informasi

Seorang laki-laki jika menikahi seorang perempuan, maka wajib hukum nya bagi dia untuk melakukan kewajiban menafkahi istrinya. Setelah itu seorang istri memiliki hak untuk meminta rizki dari seorang suami.

Rasulullah saw bersabda :

وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ 

‘’Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).’’ (HR. Muslim 2137).

Para fuqoha (ahli fiqih) sepakat bahwa kadar suami memberi nafkah kepada istrinya adalah yang ma’ruf/yang patut atau wajar. Tapi menurut madzhab imam hambali, hanafi, dan maliki, mereka membatasi yang wajib adalah yang sekiranya cukup untuk kebutuhan sehari- hari, dan kecukupan itu berbeda- beda menurut perbedaan kondisi suami dan istri, kemudian hakim-lah yang memutuskan perkara jika ada perselisihan , Hal ini didasari oleh firman Allah;

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

‘’Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.’’ (QS.al-Baqarah 233)

Hanya saja ada kondisi-kondisi tertentu  saat kewajiban seorang suami menafkahi istri itu terhenti, apa sajakah kondisi itu ?

1. Nafkah terhadap istri dihentikan jika istri membangkang, atau tidak mengizinkan suami menggaulinya. Karena nafkah adalah konpensasi menikmatinya. Jadi jika suami tidak dapat menikmatinya, maka otomatis nafkah terhadapnya menjadi terhenti.

2. Nafkah terhadap wanita yang ditalak dengan talak raj’i dihentikan jika masa iddahnya telah habis. Karena dengan selesainya wanita tersebut menjalani masa iddah, maka ia menjadi orang lain bagi suaminya.

3. Nafkah terhadap wanita hamil dihentikan jika ia telah melahirkan bayinya, namun jika menyusui anaknya, maka ia berhak mendapatkan upah atas susuannya. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) untuk kalian, maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kalian dengan baik,” (QS. Ath-Thalaq: 6).

4. Nafkah terhadap orangtua dihentikan jika orangtuanya telah kaya, atau ia (anaknya) jatuh miskin dalam arti tidak mempunyai sisa uang dari makanan sehari-harinya. Karena Allah Ta’ala tidak membebani seseorang kecuali dengan apa yang Dia berikan kepadanya.

5. Nafkah terhadap anak laki-laki dihentikan jika telah baligh dan nafkah terhadap anak perempuan dihentikan jika telah menikah. Namun, dikecualikan jika anak laki-laki yang telah baligh itu menderita sakit atau gila, maka nafkah terhadapnya tetap menjadi tanggungan ayahnya.

Maka dari itu seorang suami harus bisa selalu menafkahi istrinya sesuai dengan kemampuannya, dan juga seorang istri tidak di wajibkan memaksa seorang suami untuk menafkahi lebih dari kemampuan seorang suami.

 

Artikel Lengkap & Spesialis Khimar

www.amilyhijab.com




Komentar Artikel "Adakah Batasan Suami Menafkahi Istri ?"